Entri Populer

Cari Blog Ini

Minggu, 30 Januari 2011

TEMPAT WISATA KOTA BIMA

PANTAI LAWATA

lawataJika orang Bima ditanya tentang tempat-tempat wisata yang berada di Bima, salah satu jawaban yang niscaya disebutkan adalah: Lawata. Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Lawata terletak hampir di luar kota Bima, berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudian “dibangun”, dibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “dalam” yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.
Namun sayang sekali, ketika kami mengunjungi Lawata, tempat tersebut terkesan sangat berantakan dan rusak parah. Ketika memasuki gerbang, pintu gerbang yang dipasangi portal kayu yang dibebani batu menghalangi, namun kita bisa melepaskannya sendiri karena tidak ada petugas yang menjaga. Setelah masuk, ada lagi portal kayu yang merintangi mobil masuk ke arah pantai. Ketika kami ingin parkir di depan portal, karena untuk ke pantai bisa berjalan kaki saja, seorang ibu-ibu (usia sekitar 40-an tahun) mendatangi kami dan meminta “uang karcis”. Ibu-ibu tersebut jelas bukan petugas “resmi” karena pakaiannya sangat sederhana, seperti istri penjaga kebun saja. “Uang karcis” katanya Rp1000,- dan kami memberinya Rp10.000,- Saya berpesan kepadanya agar diberikan karcis, dan dia berjanji akan bilang kepada “petugas”nya yang saat itu (katanya) lagi mengambil minuman (ringan bersoda, dia menyebutkan merk). Kenyataannya, ketika sekitar 30 menit kemudian kami keluar, si ibu terlihat tidur di atas balai-balai bambu dan tidak ada “petugas” yang dia sebutkan. Otomatis, karcis yang dijanjikan pun hanya berupa asap transparan (hehehe… sudah asap, gak kelihatan juga kan?) Tentang cottage, sayang seribu sayang, bangunan-bangunan yang cukup banyak tersebut (terutama mungkin dari segi biayanya) sudah rusak parah. Jika ada keluarga atau rombongan pikinik yang datang, mungkin lebih suka menggelar tikar di pantai atau batu ketimbang menggunakan cottage yang sudah seperti gudang tua yang rusak parah. Ruangan cottage sangat lembab, apek, kotor, dan banyak bagian yang sudah anjlok, rubuh, atau rusak sehingga bisa membahayakan. Tentang lingkungan Lawata sendiri, juga jauh dari harapan untuk menikmati keindahan atau kenyamanan. Lawata sangat terasa tandus, kering, kotor, dan “terkesan” jorok oleh coretan-coretan kata-kata mesum di dinding dan “atmosfir” mesum yang masih mengambang di udara! Lalu apa lagi yang bisa diharapkan (jangan kata dinikmati) dari sebuah obyek wisata atau tempat piknik yang paling terkenal di Bima tersebut? Ketika saya bertemu dengan seorang saudara yang kebetulan menjadi anggota DPRD Kota Bima, saya mendapat informasi (yang tentu tidak terlalu akurat) bahwa pembangunan yang dilakukan di Lawata hanya dilakukan oleh seorang investor yang hanya mengejar pencairan dana Bank atau mendapatkan proyek di Pemda. Setelah itu, perawatan entah diserahkan kepada siapa. Saat ini kepemilikan obyek wisata Lawata berada di bawah Pemda Kota Bima, namun Pemda Kota juga tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan perawatan dan pengelolaannya.

taradisi orang bima

Bima Masih Melestarikan Tradisi Leluhur  http://berita.liputan6.com/images/video.gif

Kota Bima, Nusatenggara Barat, memiliki sejarah dan tradisi yang cukup mengakar. Di antara tradisi leluhur yang dikenal adalah kerajinan tenun dan balap kuda atau pacuajara.
Kota Bima yang merupakan bagian dari Pulau Sumbawa, telah memiliki sentra kerajinan tenun sejak Kerajaan Bima berdiri abad ke-17. Pusat tenun dipusatkan di kawasan Rabadompu. Hingga kini jejak warisan tradisi itu masih hidup dan berkembang menjadi kebanggaan warga setempat. Harga sehelai kain tenun berkisar Rp 150 ribu hingga Rp 325 ribu.
Selain untuk melestarikan budaya nenek moyang, kerajinan tenun juga sebagai sumber penghidupan warga Rabadompu. Untuk memasarkan hasil karya mereka, kini telah dibangun koperasi di desa-desa. Produk tenun yang dikenal di antaranya kain sarung. Untuk selembar sarung proses pembuatannya mencapai 20 hari.
Sementara itu, motif tenun yang populer di antaranya suri kakandau atau tunas rebung dan gusuwarung. Motif suri kakandau sarat dengan sejarah perjuangan suku Bima saat melawan penjajah Belanda dengan menggunakan bambu runcing. Motif suri kakandau secara khusus digunakan untuk acara pernikahan. Sedangkan motif gusuwarung menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Bima yang mencari kepiting di pantai.
Keunikan Kota Bima lainnya, adalah balap kuda yang digelar setiap Ahad pagi. Pacuan kuda setiap Ahad ini termasuk kelas latihan untuk kelas yang lebih tinggi seperti tingkat pemerintah kota atau yang melibatkan semua kota/kabupaten di Pulau Sumba. Uniknya, dalam sesi latihan dan balap kelas yang lebih tinggi lainnya melibatkan joki anak-anak yang usianya tidak lebih dari 12 tahun.
Tempat pacuan kuda yang terkenal adalah di Arena Pacuan Kuda Panda. Biasanya lomba digelar setiap Agustus dan melibatkan ratusan kuda pilihan dari setiap pelosok Pulau Sumba. Lomba semakin meriah karena setiap kuda memiliki penggemar dan penggembira.
Kota Bima tentu saja tidak sekadar menyajikan budaya dan tradisi. Pesona laut dan eksotisme Kota Bima bisa menjadi wisata pilihan yang perlu segera menjadi agenda.(elirahma bima)

catatan harian seorang kekasih guru


for you "my d@r"


Semangat… Semangat.. dan Terus Semangat…



Selamat jumpa kembali kawan… Lama nih blog ini ga ane update. Kemarin-kemarin, semangat ngeblog lagi kendur nih. he…he… Kali ini ane datang dengan penuh semangat 45. he…he… Kayak apa saja…

Terus terang, ane sekarang bingung mau nulis apa. Tulisan yang enak dibaca. Tulisan yang bisa menginspirasikan banyak orang. Enaknya ngomongin apa, ya?

Au ah, masih gelap. Terus terang, ane lagi semangat buat ndorong blog ini, Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia agar bisa eksis di mesin cari.

Sementara itu dulu lah. Ane lagi kehabisan ide, nih…

Mudik ke Hatimu

Mudik ke Hatimu

Rerumputan menyirat
jejakjejakmu jadi jalan setapak
Aku menuju hatimu dengan setangkai sajak
yang kupetik dari perjalanan berliku
bukankah selalu kutanam perdu
penawar rindu.
Embun-embun menyukai telanjang tapak kakimu
ketika kau melintas jalan setapak
rerumputan menjaga jejakmu tetap basah
seperti butir airmata yang enggan jatuh dari bulumatamu
bagaimana pun aku memunguti jejak itu
menyimpannya dalam sebuah sajak
lalu kuikuti ke mana kata pergi mengembara.
Bukankah hatimu kampung halaman
dari seluruh sajakku
tempat aku mudik dengan segala perbekalan
cinta.

CATATAN HARIAN SEORANG IBU SANG PAHLAWAN

CATATAN HARIAN SEORANG IBU SANG PAHLAWAN


Sebelum azan magrib berkumandang, seperti hari-hari yang lalu ,wanita itu melangkah, pada pangkalan ojek tak jauh dari rumah. Haturan sapaan akrab mengiring gemulai pelan wanita itu. Wajah-wajah karang terjangan nasib pada kota selalu ramah menyambut wanita. Dari tangan salah satu wajah tersebut terhatur lembaran harian hari ini. Wanita itu berbinar, menyimak, kisah anaknya kembali di torehkan hari ini.

Sayup-sayup suara suci mengalun. Wanita itu dengan hati-hati menyimpan lembaran tersebut pada sebuah kotak pembukus sepatu. Sesaat memandang lagi yang tepatri pada lembaran tersebut. Selarik senyum menghias bibir yang mengering. Kemudian dia diam dalam sunyinya. Memadang layar kaca berharap berjumpa anaknya lagi.

Menjelang tengah malam, sang anak kembali, senyuman dan anggukan terhatur pada wanita itu. Lalu senyam dalam biliknya. Pagi dia sudah tiada lagi.

Sebelum magrib, wajah-wajah karang menatap sepi, lembaran yang tersaji tak terjamah. Segurat tanya dalam benak. Tak menemukan jawaban.

Wanita itu tak beranjak, di temani gadis berkerudung hitam, berdua sama-sama diam. Menanti.
Wajah keduanya berseri dalam sunyi, ada larikan pasrah dan bangga dalam iklas menghiasi . Memandang pada benda-benda yang ada di hadapan mereka. Kembali sabar mereka menanti sang anak dan kekasih hati kembali.

Lewat tengah malam, yang di nanti menampakan diri. Dalam wajah letih menatap heran kepada keduanya , terlintas tanya dalam hati, tak kuasa lidah mengucapkan kata.

“ Milik siapa ini..?”
“ Milikmu nak....”
“ Maksudnya.....?”

Sesaat wanita itu diam, mengumpulkan kekuatan untuk berkata.

“ Anakku... berangkatlah... bela saudara-saudaramu yang disana, yang menderita dalam kejamnya durjana ... berangkatlah anakku...dalam nama suci yang selalu engkau kumandangkan , pada warna-warna yang engkau kibarkan, berikan tinju yang selalu engkau kepalkan kepada mereka yang durjana itu nak. Hantam wajah-wajah mereka. Ledakan roda-roda besi mereka. Jadilah benteng bagi saudara-saudaramu . “

Kembali sang anak tak juga mengerti, dan menoleh kepada sang kekasih. Anggukan halus lembut jawabannya.

Terhenyak sang anak... dalam seguknya terucap patah...

“ Ibu, jangan ibu percaya ... apa yang ibu lihat .. dan dengar... ini hanya demi piring kita bu..”

Tersujud sang anak di pangkuan ibunya. Sesaat ia mengeserkan ekor matanya, gadis berkerudung hitam telah berlalu meninggalkan pintu yang menganga.