Entri Populer

Cari Blog Ini

Minggu, 30 Januari 2011

CATATAN HARIAN SEORANG IBU SANG PAHLAWAN

CATATAN HARIAN SEORANG IBU SANG PAHLAWAN


Sebelum azan magrib berkumandang, seperti hari-hari yang lalu ,wanita itu melangkah, pada pangkalan ojek tak jauh dari rumah. Haturan sapaan akrab mengiring gemulai pelan wanita itu. Wajah-wajah karang terjangan nasib pada kota selalu ramah menyambut wanita. Dari tangan salah satu wajah tersebut terhatur lembaran harian hari ini. Wanita itu berbinar, menyimak, kisah anaknya kembali di torehkan hari ini.

Sayup-sayup suara suci mengalun. Wanita itu dengan hati-hati menyimpan lembaran tersebut pada sebuah kotak pembukus sepatu. Sesaat memandang lagi yang tepatri pada lembaran tersebut. Selarik senyum menghias bibir yang mengering. Kemudian dia diam dalam sunyinya. Memadang layar kaca berharap berjumpa anaknya lagi.

Menjelang tengah malam, sang anak kembali, senyuman dan anggukan terhatur pada wanita itu. Lalu senyam dalam biliknya. Pagi dia sudah tiada lagi.

Sebelum magrib, wajah-wajah karang menatap sepi, lembaran yang tersaji tak terjamah. Segurat tanya dalam benak. Tak menemukan jawaban.

Wanita itu tak beranjak, di temani gadis berkerudung hitam, berdua sama-sama diam. Menanti.
Wajah keduanya berseri dalam sunyi, ada larikan pasrah dan bangga dalam iklas menghiasi . Memandang pada benda-benda yang ada di hadapan mereka. Kembali sabar mereka menanti sang anak dan kekasih hati kembali.

Lewat tengah malam, yang di nanti menampakan diri. Dalam wajah letih menatap heran kepada keduanya , terlintas tanya dalam hati, tak kuasa lidah mengucapkan kata.

“ Milik siapa ini..?”
“ Milikmu nak....”
“ Maksudnya.....?”

Sesaat wanita itu diam, mengumpulkan kekuatan untuk berkata.

“ Anakku... berangkatlah... bela saudara-saudaramu yang disana, yang menderita dalam kejamnya durjana ... berangkatlah anakku...dalam nama suci yang selalu engkau kumandangkan , pada warna-warna yang engkau kibarkan, berikan tinju yang selalu engkau kepalkan kepada mereka yang durjana itu nak. Hantam wajah-wajah mereka. Ledakan roda-roda besi mereka. Jadilah benteng bagi saudara-saudaramu . “

Kembali sang anak tak juga mengerti, dan menoleh kepada sang kekasih. Anggukan halus lembut jawabannya.

Terhenyak sang anak... dalam seguknya terucap patah...

“ Ibu, jangan ibu percaya ... apa yang ibu lihat .. dan dengar... ini hanya demi piring kita bu..”

Tersujud sang anak di pangkuan ibunya. Sesaat ia mengeserkan ekor matanya, gadis berkerudung hitam telah berlalu meninggalkan pintu yang menganga.

1 komentar: