PANTAI LAWATA
Namun sayang sekali, ketika kami mengunjungi Lawata, tempat tersebut terkesan sangat berantakan dan rusak parah. Ketika memasuki gerbang, pintu gerbang yang dipasangi portal kayu yang dibebani batu menghalangi, namun kita bisa melepaskannya sendiri karena tidak ada petugas yang menjaga. Setelah masuk, ada lagi portal kayu yang merintangi mobil masuk ke arah pantai. Ketika kami ingin parkir di depan portal, karena untuk ke pantai bisa berjalan kaki saja, seorang ibu-ibu (usia sekitar 40-an tahun) mendatangi kami dan meminta “uang karcis”. Ibu-ibu tersebut jelas bukan petugas “resmi” karena pakaiannya sangat sederhana, seperti istri penjaga kebun saja. “Uang karcis” katanya Rp1000,- dan kami memberinya Rp10.000,- Saya berpesan kepadanya agar diberikan karcis, dan dia berjanji akan bilang kepada “petugas”nya yang saat itu (katanya) lagi mengambil minuman (ringan bersoda, dia menyebutkan merk). Kenyataannya, ketika sekitar 30 menit kemudian kami keluar, si ibu terlihat tidur di atas balai-balai bambu dan tidak ada “petugas” yang dia sebutkan. Otomatis, karcis yang dijanjikan pun hanya berupa asap transparan (hehehe… sudah asap, gak kelihatan juga kan?) Tentang cottage, sayang seribu sayang, bangunan-bangunan yang cukup banyak tersebut (terutama mungkin dari segi biayanya) sudah rusak parah. Jika ada keluarga atau rombongan pikinik yang datang, mungkin lebih suka menggelar tikar di pantai atau batu ketimbang menggunakan cottage yang sudah seperti gudang tua yang rusak parah. Ruangan cottage sangat lembab, apek, kotor, dan banyak bagian yang sudah anjlok, rubuh, atau rusak sehingga bisa membahayakan. Tentang lingkungan Lawata sendiri, juga jauh dari harapan untuk menikmati keindahan atau kenyamanan. Lawata sangat terasa tandus, kering, kotor, dan “terkesan” jorok oleh coretan-coretan kata-kata mesum di dinding dan “atmosfir” mesum yang masih mengambang di udara! Lalu apa lagi yang bisa diharapkan (jangan kata dinikmati) dari sebuah obyek wisata atau tempat piknik yang paling terkenal di Bima tersebut? Ketika saya bertemu dengan seorang saudara yang kebetulan menjadi anggota DPRD Kota Bima, saya mendapat informasi (yang tentu tidak terlalu akurat) bahwa pembangunan yang dilakukan di Lawata hanya dilakukan oleh seorang investor yang hanya mengejar pencairan dana Bank atau mendapatkan proyek di Pemda. Setelah itu, perawatan entah diserahkan kepada siapa. Saat ini kepemilikan obyek wisata Lawata berada di bawah Pemda Kota Bima, namun Pemda Kota juga tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan perawatan dan pengelolaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar